Beurasan Bergerak dari Data Menuju Kepedulian
Pidie Jaya — Di balik sebuah angka dalam laporan kesehatan, terdapat cerita tentang kehidupan, perjuangan keluarga, dan harapan masa depan seorang anak. Kesadaran itulah yang mengemuka dalam Rembuk Stunting Gampong Beurasan, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, yang dilaksanakan di Kantor Keuchik Beurasan, Selasa (23/7/2026).
Forum tersebut tidak sekadar menjadi agenda pertemuan desa, tetapi menjadi ruang bersama untuk membaca persoalan gizi anak secara lebih mendalam dan menyusun langkah nyata agar tidak ada anak yang tertinggal dalam proses pembangunan.
Rembuk Stunting tersebut dihadiri oleh Keuchik Gampong Beurasan Suhaimi Saputra, unsur Pemerintah Gampong yang terdiri dari Tuha Peut Gampong (Tuha 4), Sekretaris Desa, Kepala Seksi Kesejahteraan (Kasi Kesra), perwakilan Puskesmas Kecamatan Bandar Dua melalui tenaga gizi dan Bidan Desa, Kader Pembangunan Manusia (KPM) Ernawati, Kader Posyandu, tokoh masyarakat, Pendamping Lokal Desa (PLD), serta Pendamping Desa (PD).
Hadir pula dalam kegiatan tersebut Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Ibrahim Syamaun, S.T., M.Pd, Pendamping Lokal Desa Yusdi, ST, dan Pendamping Desa Ishak, S.Pd.I, yang turut memberikan penguatan terhadap pentingnya pembangunan desa berbasis data dan kolaborasi.
Dari Tujuh Anak Menjadi Empat Anak
Berdasarkan data terbaru dari Puskesmas dan Posyandu hingga Juli 2026, dari 38 keluarga sasaran yang menjadi perhatian dalam program percepatan penurunan stunting, masih ditemukan anak yang mengalami indikasi kurang gizi.
Pada awal pemantauan terdapat 7 anak yang terindikasi kurang gizi. Setelah dilakukan berbagai upaya intervensi melalui pemantauan kesehatan, pendampingan keluarga, serta pelayanan Posyandu dan Puskesmas, jumlah tersebut berhasil menurun menjadi 4 anak.
Capaian tersebut menunjukkan adanya perkembangan positif, namun sekaligus menjadi pengingat bahwa pekerjaan besar masih harus dilanjutkan.
“Angka tujuh yang turun menjadi empat bukan hanya sebuah keberhasilan dalam laporan, tetapi menunjukkan bahwa kerja bersama mampu memberikan perubahan bagi kehidupan anak-anak. Namun, empat anak yang masih tersisa adalah tanggung jawab bersama yang harus kita tuntaskan.”
Keuchik Beurasan: Anak Adalah Masa Depan Gampong
Keuchik Beurasan Suhaimi Saputra menegaskan bahwa Pemerintah Gampong Beurasan memiliki komitmen untuk mendukung percepatan penanganan stunting melalui kerja sama seluruh unsur.
Menurutnya, pembangunan gampong tidak hanya berbicara mengenai pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana pemerintah hadir dalam memastikan kualitas hidup masyarakat semakin baik.
“Pemerintah Gampong Beurasan berkomitmen mendukung upaya penanganan stunting. Anak-anak adalah masa depan gampong, sehingga persoalan kesehatan dan gizi mereka harus menjadi perhatian bersama. Kami akan terus berkoordinasi dengan Puskesmas, kader, pendamping, dan masyarakat agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai.”
— Suhaimi Saputra, Keuchik Beurasan
Keuchik Suhaimi juga menyampaikan bahwa hasil Rembuk Stunting akan menjadi bahan penting dalam penyusunan program pembangunan gampong, khususnya melalui RKPDes Tahun 2027, agar intervensi yang dilakukan lebih tepat sasaran.
Puskesmas: Stunting Membutuhkan Dukungan Lintas Sektor
Perwakilan Puskesmas Kecamatan Bandar Dua melalui tenaga gizi dan Bidan Desa menjelaskan bahwa penurunan jumlah anak terindikasi kurang gizi merupakan hasil dari kerja bersama antara tenaga kesehatan, kader, keluarga, dan pemerintah gampong.
Namun, untuk mencapai target nol kasus, diperlukan penguatan dukungan dari berbagai sektor.
“Kami dari Puskesmas dan Posyandu terus melakukan pemantauan serta pendampingan terhadap anak-anak sasaran. Penurunan dari tujuh menjadi empat anak merupakan hasil yang baik, tetapi kami masih membutuhkan dukungan Pemerintah Gampong dan seluruh masyarakat agar target nol kasus dapat tercapai.”
Menurut tenaga kesehatan, faktor ekonomi keluarga menjadi salah satu aspek yang perlu mendapatkan perhatian karena pemenuhan gizi anak sangat berkaitan dengan kemampuan keluarga menyediakan makanan bergizi secara berkelanjutan.
TAPM: Konvergensi Menjadi Kunci Penyelesaian
Dalam arahannya, Ibrahim Syamaun, S.T., M.Pd selaku Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) menekankan bahwa persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya oleh sektor kesehatan.
Menurutnya, pendekatan konvergensi menjadi kunci karena melibatkan berbagai unsur pembangunan desa.
“Konvergensi stunting adalah kunci. Penanganan tidak hanya cukup dari sektor kesehatan, tetapi harus melibatkan semua sektor. Pemerintah Gampong perlu menyusun program yang tepat sasaran berdasarkan data dan memastikan adanya dukungan melalui perencanaan pembangunan desa.”
— Ibrahim Syamaun, S.T., M.Pd
Ia menjelaskan bahwa desa memiliki posisi strategis karena menjadi pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat dan memahami kondisi riil keluarga.
Peran Pendamping dan KPM Dalam Menguatkan Data Desa
Dalam proses pembangunan berbasis data, peran pendamping desa menjadi bagian penting untuk memastikan program desa berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pendamping Lokal Desa Yusdi, ST dan Pendamping Desa Ishak, S.Pd.I memberikan penguatan agar Pemerintah Gampong Beurasan terus menggunakan data sebagai dasar penyusunan program, sehingga setiap intervensi benar-benar menyasar keluarga yang membutuhkan.
Sementara itu, KPM Gampong Beurasan Ernawati berperan dalam membantu proses pendataan, pemantauan keluarga sasaran, serta menjadi penghubung antara masyarakat, pemerintah gampong, dan tenaga kesehatan.
“Data memberikan arah dalam menentukan program, tetapi kepedulian dan kerja bersama menjadi kekuatan utama untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat.”
Kesepakatan Menuju Nol Anak Kurang Gizi
Melalui Rembuk Stunting tersebut, seluruh peserta menyepakati beberapa langkah tindak lanjut, yaitu:
- Melakukan pendampingan intensif terhadap 4 anak yang masih terindikasi kurang gizi.
- Memperkuat koordinasi antara Pemerintah Gampong Beurasan, Puskesmas, Bidan Desa, Posyandu, dan KPM.
- Mengusulkan program konvergensi stunting dalam RKPDes Tahun 2027.
- Mendorong intervensi yang menyentuh aspek kesehatan, ekonomi keluarga, dan ketahanan pangan.
Target bersama yang ingin dicapai adalah menurunkan angka anak terindikasi kurang gizi dari 4 anak menjadi nol anak pada November 2026.
“Keberhasilan pembangunan desa tidak hanya dilihat dari apa yang dibangun, tetapi dari bagaimana desa mampu menjaga dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.”
Menjaga Anak, Menjaga Masa Depan Beurasan
Rembuk Stunting Gampong Beurasan menjadi gambaran bahwa pembangunan manusia membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah gampong, tenaga kesehatan, kader, pendamping, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi.
Sebab persoalan stunting bukan hanya tentang angka pertumbuhan anak, tetapi tentang masa depan sebuah generasi.
Dari ruang musyawarah di Kantor Keuchik Beurasan, muncul sebuah komitmen sederhana namun penting: memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, kuat, dan menjadi bagian dari masa depan Gampong Beurasan.
***
Sumber : Ibrahim Syamaun, Ishak, Yusdi
Oleh : Bustami
Komentar
Posting Komentar