Cahaya Putih dari Jangka Buya: Ucapan Selamat untuk Para Keuchik Penjaga Nur Gampong
Pagi itu, 23 Oktober 2025, cahaya menembus lembut jendela aula antor Bupati Pidie Jaya di Meureudu. Lantai yang mengilap memantulkan langkah-langkah penuh arti dari 14 (empat belas) sosok berseragam putih. Di dada mereka tergantung tanda jabatan, kecil bentuknya, namun berat maknanya, sebab di balik setiap medali tersimpan doa ribuan warga Gampong dalam Kecamatan Jangka Buya yang menitipkan nasib dan harapan.
Di tengah mereka berdiri Camat Jangka Buya, Bapak Nasruddin, S.E., wajahnya teduh, tangannya menyatu di depan dada, seolah tengah mengirimkan restu. Di belakang, spanduk biru bertuliskan “Pelantikan Keuchik Terpilih Kabupaten Pidie Jaya Periode 2025–2031” membingkai momen itu dengan kebanggaan yang sederhana, tapi dalam.
Foto ini, sekilas mungkin tampak biasa. Namun bagi yang paham makna pemerintahan Gampong, ia adalah potret paling luhur dari demokrasi yang paling dekat dengan rakyat, demokrasi yang lahir bukan dari panggung megah, melainkan dari meunasah, dari sawah, dari suara yang diucapkan pelan tapi jujur: Ureung Nyoe Ka kamoe pileh ke Pemimpin, orang ini telah kami pilih untuk memimpin.
1. Di Antara Seragam Putih dan Hati yang Luhur
Putih, warna yang mereka kenakan hari itu, bukan sekadar simbol seremonial. Ia adalah warna niat yang ingin tetap bersih meski kelak harus berjalan di jalan yang berdebu. Putih adalah janji untuk menjaga kejujuran di tengah godaan kekuasaan, kesetiaan di tengah politik yang kadang getir, dan kasih di tengah rakyat yang tak selalu mudah dipimpin.
Para Keuchik itu, dengan latar belakang yang berbeda, petani, nelayan, pedagang, pensiunan guru, bahkan mantan perantau, mantan perangkat Gampong atau Tuha Peut atau Tokoh pemuda maupun agama, kini berdiri sejajar dalam satu barisan pengabdian. Mereka bukan pejabat yang lahir dari kekuasaan, melainkan putra terbaik Gampong yang tumbuh dari tanah yang sama, yang mengerti bagaimana getirnya hidup saat tambak tak panen, saat harga gabah jatuh, saat sekolah anak harus ditunda demi membeli pupuk.
Maka tugas mereka bukan hanya mengatur Gampong, tapi menjaga harapan agar rakyat kecil tak pernah merasa ditinggalkan oleh negerinya sendiri.
2. Camat Sebagai Penjaga Irama Pelayanan
Di tengah barisan itu, Camat Nasruddin, S.E. berdiri bukan sebagai atasan, tapi sebagai pengayom. Ia tahu bahwa memimpin di Gampong bukan soal jabatan, tapi soal kepercayaan. Dalam pandangan administrasi pemerintahan, camat adalah pengendali wilayah; tapi dalam pandangan sosial, ia adalah guru yang menjaga agar anak-anak kepemimpinan di bawahnya tidak tersesat arah.
Camat Jangka Buya, Bapak Nasruddin, SE berharap para Keuchik memimpin dengan hati yang jernih, menjaga kepercayaan rakyat, membangun desa dengan keikhlasan, serta menanam keadilan dan kasih dalam setiap kebijakan demi kemajuan dan keberkahan Gampong dalam Kecamatan Jangka Buya.
Ia hadir bukan untuk mengawasi, tapi untuk memastikan bahwa setiap Keuchik akan tetap berjalan dalam satu irama: irama pengabdian yang tulus. Bahwa setelah hari pelantikan ini usai, mereka akan kembali ke gampông masing-masing, menyalami warga, mendengar keluh, menenangkan hati, dan menumbuhkan asa.
3. Ketika Amanah Menjadi Ibadah
Menjadi Keuchik bukanlah kemewahan, tetapi tanggung jawab. Dalam sistem sosial Aceh, seorang Keuchik tidak hanya mengurus administrasi, tapi juga menjadi penengah sengketa, penuntun moral, pelindung anak yatim, bahkan sering kali menjadi tempat masyarakat menangis saat musibah datang.
Ia dituntut bukan hanya cerdas dalam laporan, tapi juga lembut dalam perasaan.
Bukan hanya pandai mengatur pembangunan, tapi juga adil dalam membagi perhatian.
Bukan hanya mengucapkan janji di podium, tapi menepatinya di sawah, di dapur, di pasar, di meunasah.
Pelantikan hanyalah awal. Amanah yang sesungguhnya dimulai ketika lampu aula dipadamkan dan mereka kembali ke desa, di mana rakyat menanti dengan harapan yang sederhana: bahwa pemimpin mereka akan datang bukan untuk berkuasa, tapi untuk melayani.
4. Dari Jangka Buya untuk Indonesia
Kecamatan Jangka Buya adalah wajah kecil dari Kabupaten Pidie Jaya - Aceh - Indonesia yang besar. Di sini laut bersentuhan dengan sawah - ladang, iman bertemu kerja keras, dan adat berjalin dengan pemerintahan. Para Keuchik yang berdiri hari itu adalah penjaga keseimbangan antara masa lalu yang sarat kearifan dan masa depan yang menuntut inovasi.
Mereka bukan hanya mengelola anggaran Gampong, tapi juga menjaga narasi tentang apa artinya menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Dari mereka, Gampong dalam kecamatan Jangka Buya belajar bahwa pembangunan sejati tidak lahir dari beton dan angka, melainkan dari hati yang mau mendengar dan tangan yang mau bekerja bersama rakyat.
5. Salam untuk Pengabdi Desa
Kepada seluruh Keuchik yang baru saja dilantik,
terimalah ucapan selamat yang lahir dari hati yang tulus.
Selamat menapaki jalan panjang pengabdian, jalan yang mungkin sunyi tapi penuh cahaya.
Jadilah pemimpin yang ketika rakyatmu lapar, engkau ikut merasa;
ketika rakyatmu gembira, engkau tersenyum paling luas.
Jagalah putih di dada kalian, bukan hanya di seragam, tapi juga di hati.
Sebab rakyat tidak menuntut kalian sempurna, mereka hanya ingin kalian hadir, jujur, dan peduli.
Semoga enam tahun ke depan menjadi lembaran pengabdian yang indah bagi Jangka Buya:
desa yang hidup dari laut dan ladang,
yang kini menaruh masa depannya di tangan-tangan yang berseragam putih itu.
Penutup: Doa dari Tanah Gampông
Dari aula sederhana tempat foto itu diambil, semoga doa ini berangkat:
“Ya Allah, berkahilah langkah para pemimpin Gampong kami.
Jadikan tangan mereka alat untuk menebar keadilan,
lidah mereka alat untuk menenangkan hati,
dan keputusan mereka jalan menuju kemaslahatan.”
Selamat bertugas, para Keuchik dalam Jangka Buya.
Semoga nama kalian kelak tidak hanya tercatat di papan pemerintahan,
tetapi juga di hati rakyat yang kalian layani.
_______
Oleh : Bustami, S.Pd.I - Pendamping Desa/ Korcam Jangka Buya
0 Komentar