Muhammad Isa: Dari Lorong Kampus ke Lorong Gampong : Realisme, Logika, dan Cahaya Ilmu dari Ayat dan Hadis

Catatan seorang Sahabat : Bustami, S.Pd.I

Di antara hiruk-pikuk politik lokal dan gelombang demokrasi desa yang kadang mengguncang ketenangan masyarakat, muncul sosok yang tetap teduh dan penuh makna: Muhammad Isa, Keuchik Gampong Lancok, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Ia baru saja memenangkan kontestasi Pilchiksung 2025–2031 dengan selisih hanya empat suara, sebuah angka kecil yang sarat makna besar.
Namun, di balik angka itu, tersimpan kisah panjang tentang intelektualitas, kebijaksanaan, dan kematangan spiritual seorang alumni Tadris Bahasa Arab (TBA) IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, yang sejak masa mahasiswa sudah menunjukkan kedewasaan berpikir di atas rata-rata.

1. Sosok yang Hidup Bersama Ayat dan Hadis

Bagi kami, teman-teman kuliahnya dulu di IAIN Ar-Raniry, Muhammad Isa bukan sekadar mahasiswa Tadris Bahasa Arab yang cerdas. Ia adalah pribadi yang Humble, hidup bersama ayat dan hadis, bukan hanya mengutipnya di bibir, tetapi menghayatinya dalam perilaku dan argumen.
Ia memahami kaidah-kaidah bahasa Arab dengan sangat baik, mulai dari nahwu, sharaf, hingga balaghah — sehingga setiap kali ia berbicara, selalu terasa ada dasar nash yang menopang logikanya.

Pernah suatu kali, di tempat biasa kami Kumpul, meskipun hanya berbicara ringan di Bemaf Tarbiyah, ia berkata dengan nada tenang tapi tegas dengan gaya khas nya :

“Semua ada penjelasannya, semua ada asbabun nuzulnya. Allah SWT saja menurunkan ayat ada sebab-musababnya, masak kita manusia membuat peraturan tanpa sebab musababnya.”

Kami yang mendengarnya hanya bisa manggut-manggut, bukan karena sepakat sepenuhnya waktu itu, tapi karena belum sepenuhnya paham. Ia berbicara dengan struktur logika dan bahasa yang berakar dari pemahaman Arab yang mendalam. Kami tahu, di balik setiap kalimatnya, ada tafsir, ada qiyas, ada hikmah.

Kini, bertahun-tahun kemudian, kalimat itu terasa hidup dan menemukan relevansinya justru di tanah kelahirannya, di Gampong Lancok, tempat ia kini memimpin sebagai Keuchik.

2. Dari Kaidah Bahasa ke Kaidah Kehidupan

Ketika seseorang belajar bahasa Arab secara mendalam, ia tidak hanya mempelajari bunyi dan makna, tetapi juga struktur berpikir ilahiah. Bahasa Arab mengajarkan keteraturan logika, sebab-akibat, dan konteks. Itulah yang tertanam kuat dalam cara berpikir Muhammad Isa.

Ia membawa kaidah itu ke dalam praktik sosial. Di Gampong Lancok Kecamatan Meurah Dua, ia tidak mengambil keputusan secara spontan atau populis. Setiap langkahnya terukur. Ia tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, kapan harus menegaskan, dan kapan harus memaafkan.
Dalam politik desa yang seringkali mudah memanas oleh isu kecil, sikap tenang, rasional, dan berkaidah seperti ini menjadi oase.

Kita bisa melihat refleksi prinsip “asbabun nuzul” itu dalam kebijakan sosialnya. Bagi Isa, setiap kebijakan desa harus punya asbabun wujud — sebab yang jelas, tujuan yang konkret, dan dasar yang logis.
Baginya, aturan tanpa sebab adalah kebijakan tanpa ruh.

3. Reaksi Kemenangan: Logika dan Nurani yang Menyatu

Kemenangan dengan selisih empat suara di Gampong Lancok tentu bisa memicu ketegangan sosial. Namun, Isa justru mengawali masa jabatannya dengan kata-kata yang penuh kesejukan dan kesadaran diri:

“Alhamdulillah. Terima kasih banyak bagi yang sudah menghina, hari ini merupakan sejarah penting untuk dicatat.”

Kalimat ini sederhana tapi dalam. Ia tidak membalas hinaan dengan kemarahan, melainkan dengan refleksi. Ia menempatkan dirinya bukan sebagai pihak yang menang atas lawan, melainkan sebagai manusia yang dituntun oleh makna ujian.

Ia menutup pernyataannya dengan ajakan penuh cinta:

“Mari kita bangkit bersama!! Untuk sama-sama kita gotong desa kita tercinta ke arah yang lebih baik, damai, aman dan sejahtera.”

Inilah logika spiritual yang khas Muhammad Isa. Ia tahu bahwa kemenangan yang hakiki bukan di bilik suara, tapi di hati masyarakat. Bahwa kekuasaan bukan untuk menundukkan, tapi untuk menyembuhkan.

4. Realisme dan Keberanian Intelektual di Tengah Tradisi

Sebagai seorang alumni Tadris Bahasa Arab, Isa terbiasa berpikir dengan struktur logika yang sistematis, premis, dalil, qiyas, dan kesimpulan. Namun yang membuatnya unik adalah keberaniannya menerapkan cara berpikir itu dalam kehidupan sosial di kampung, tanpa kehilangan sentuhan lokalitas Aceh yang beradat dan beragama.

Ia tidak menolak tradisi, tapi memaknainya dengan cara baru. Misalnya, dalam mengatur musyawarah Gampong, ia sering mengaitkan keputusan dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis, bukan untuk menggurui, tetapi untuk memberi legitimasi moral yang bisa diterima semua pihak.

Bagi warga Gampong Lancok, sosok seperti Isa menghadirkan kehangatan spiritual sekaligus ketegasan intelektual. Ia bisa bicara lembut seperti Tungku, tapi juga bisa menjelaskan tegas seperti akademisi. Inilah perpaduan ‘ulil albab’ yang berpikir dengan hati, dan berhati dengan pikiran.

5. Dari Kampus ke Gampong: Perjalanan Seorang Realis Logis

Perjalanan hidup Muhammad Isa seolah menegaskan bahwa ilmu yang benar tidak berakhir di kampus, tapi menemukan maknanya di tengah masyarakat. Ia membawa cara berpikir “kausalitas Qurani” ke dalam ruang sosial Gampong Lancok.

Kita bisa melihat bagaimana pengaruh pendidikan TBA-nya tampak dalam keseharian:

  • Ia menimbang setiap keputusan seperti seorang mufassir menimbang makna ayat.
  • Ia memahami konteks sosial sebagaimana ahli hadis memahami asbab al-wurud.
  • Ia membaca masyarakat sebagaimana seorang nahwi membaca susunan kalimat — memahami posisi setiap kata, setiap peran, dan setiap makna di dalam struktur besar yang bernama desa.

Tak heran jika banyak warga — termasuk lawan politiknya, menaruh hormat. Karena dalam setiap kalimatnya, terselip kebijaksanaan yang tidak dibuat-buat.

6. Tantangan Rekonsiliasi: Menghidupkan Kaidah di Tanah Nyata

Namun Isa tahu, kemenangan ini bukan akhir, melainkan awal dari ujian baru. Gampong Lancok kini terbelah hampir sama rata. Ia tidak bisa hanya memerintah, ia harus merangkul.

Dalam konteks ini, pemahaman bahasa Arab dan ilmu tafsirnya menjadi modal kepemimpinan. Ia paham bahwa “tafsir sosial” jauh lebih sulit dari tafsir ayat. Manusia lebih kompleks dari teks. Karena itu, ia menempatkan diri bukan sebagai penguasa, tapi sebagai penafsir dan pelayan masyarakat.

Jika dalam Al-Qur’an setiap ayat memiliki “asbabun nuzul”, maka dalam masyarakat, setiap konflik memiliki “asbabun fitnah”. Dan tugas seorang pemimpin adalah menemukan sebab itu, lalu mengobatinya dengan hikmah.

7. Model Kepemimpinan Berbasis Ilmu dan Hikmah untuk Pidie Jaya

Kepemimpinan seperti yang ditunjukkan oleh Muhammad Isa bukan hanya penting untuk Gampong Lancok, tetapi juga layak dijadikan model bagi desa-desa lain di Kabupaten Pidie Jaya.
Mengapa? Karena ia menampilkan tiga fondasi yang sangat relevan untuk konteks sosial Aceh hari ini: ilmu, hikmah, dan adab.

  1. Ilmu, Isa membuktikan bahwa ilmu agama, jika dipahami secara mendalam, dapat menjadi dasar pengambilan keputusan publik. Ia tidak sekadar hafal ayat dan hadis, tetapi memahami kaidah-kaidah ushuliyyah yang menuntun bagaimana menafsirkan realitas sosial. Dengan begitu, kebijakan desa tidak didasarkan pada perasaan, tapi pada penalaran ilmiah yang berpadu dengan iman.

  2. Hikmah, Ia tidak kaku dengan teks, tetapi lentur dalam konteks. Dalam setiap persoalan masyarakat, ia mencari titik tengah yang menenangkan. Inilah hakikat hikmah: memutuskan sesuatu dengan pengetahuan yang benar dan tujuan yang tepat. Sikapnya yang memaafkan lawan politik adalah contoh konkret dari hikmah siyasah, kebijaksanaan dalam politik lokal.

  3. Adab, Mungkin inilah yang paling penting. Isa tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang menekankan adab sebelum ilmu. Maka, meski ia seorang pemimpin, ia tetap rendah hati. Ia menyapa masyarakat dengan bahasa Aceh yang lembut, menghargai perbedaan pandangan, dan menempatkan setiap orang pada posisinya. Dalam konteks desa yang sarat hubungan kekerabatan, adab adalah perekat sosial yang tak tergantikan.

Pidie Jaya, sebagai kabupaten yang tengah berkembang, membutuhkan model pemimpin seperti ini. Sosok yang tidak hanya memimpin dengan tangan, tetapi juga dengan akal dan hati. Sosok yang memahami bahwa membangun Gampong bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal membangun struktur pikir dan struktur rasa.

Bayangkan jika di setiap gampong muncul figur seperti Muhammad Isa, alumni kampus Islam yang berpikir logis, berjiwa sosial, dan berhati lembut. Maka, pembangunan desa tidak lagi sekadar laporan proyek, melainkan gerakan kultural yang menghidupkan nilai-nilai keislaman dalam praktik pemerintahan lokal.

8. Penutup: Pemimpin yang Menafsir Hidup dengan Ilmu

Sosok Muhammad Isa adalah cerminan dari pemimpin desa yang membawa cahaya kampus ke jalan tanah. Dari ruang kuliah IAIN Ar-Raniry di Darussalam ke lorong-lorong Gampong Lancok di Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya, ia tetap menjadi pribadi yang sama: realistis, logis, dan berkaidah.

Ia membangun bukan hanya fisik gampong, tapi juga struktur pikir warganya. Ia tidak hanya menyalakan lampu jalan, tapi juga menyalakan nalar sosial.

Dan mungkin, bila kelak anak-anak muda Lancok bertanya kepadanya apa arti kepemimpinan, ia akan menjawab dengan gaya khasnya yang tenang dan ilmiah:

“Semua ada sebabnya. Bahkan kemenangan pun punya asbabun nuzul, agar kita belajar rendah hati, dan tahu bahwa kuasa itu hanya titipan.”

Di titik itu, kita semua, yang dulu di BEMAF TARBIYAH hanya bisa manggut-manggut, akhirnya benar-benar paham maksudnya.
Bahwa dalam setiap ayat kehidupan, ada logika, ada hikmah, dan ada cinta, dan Muhammad Isa, Keuchik Gampong Lancok, telah menafsirkan semuanya dengan tindakan nyata.

Posting Komentar

0 Komentar