Hari ini, 7 November 2025, adalah hari istimewa bagi Bpk. Yandri Susanto, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Tepat di usianya yang ke-51, Bapak Yandri bukan hanya merayakan bertambahnya umur, tapi juga menapaki perjalanan panjang pengabdian yang ia mulai dari tanah kelahirannya di Palak Siring, Bengkulu, sebuah desa yang membentuk jiwanya hingga seperti sekarang.
Dibesarkan dalam keluarga sederhana, Bapak Yandri belajar tentang arti kerja keras dan ketulusan sejak kecil. Dari peternakan, sawah, hingga jalan berlumpur di kampung halamannya, ia memahami betul kehidupan rakyat kecil. Maka tak heran, ketika dipercaya menjadi Menteri Desa, ia seolah pulang ke panggilan hidupnya, mengabdi untuk desa dan orang-orang yang tumbuh di tanah yang sama dengannya.
Dari Aktivis ke Pemimpin
Bapak Yandri bukanlah sosok yang instan. Ia tumbuh dari dunia aktivisme dan organisasi kepemudaan seperti KNPI, lalu meniti karier di Partai Amanat Nasional. Sejak tahun 2012, ia duduk di kursi DPR RI, dikenal vokal dan berani bersuara untuk rakyat. Ia tak takut berbeda pendapat, karena baginya, politik adalah ruang untuk memperjuangkan yang benar, bukan mencari aman.
Perjalanan itu membawanya menjadi Ketua Komisi VIII DPR RI, lalu Wakil Ketua MPR, dan akhirnya dipercaya memimpin Kementerian Desa PDTT pada 2024. Saat itu, Yandri menyebut jabatan ini sebagai “amanah terbesar dalam hidupnya”, karena melalui desa, ia ingin membangun Indonesia dari akar rumput.
Desa Sebagai Nafas Pembangunan
Selama memimpin, Yandri memperkenalkan arah baru pembangunan desa: “Desa Mandiri, Desa Tangguh.” Ia percaya bahwa desa bukan objek pembangunan, tapi subjek yang menentukan arah masa depan bangsa.
Ia mendorong Dana Desa agar lebih tepat sasaran: 15% untuk penanganan kemiskinan ekstrem, 20% untuk ketahanan pangan, dan sebagian lainnya untuk stunting, digitalisasi, serta adaptasi terhadap perubahan iklim.
Program-program seperti 12 Aksi Bangun Desa Bangun Indonesia dan Koperasi Desa Merah Putih lahir dari keyakinannya bahwa kemandirian desa adalah kunci kesejahteraan nasional.
Tak Lepas dari Sorotan
Tentu, perjalanan Bapak Yandri tak selalu mulus. Ia sempat diterpa kontroversi, mulai dari penggunaan kop surat kementerian hingga pernyataan keras terhadap wartawan. Tapi di balik itu semua, Bapak Yandri tetap melangkah. Ia lebih memilih turun langsung ke desa, berdialog dengan warga, dan bekerja nyata daripada sekadar mencari pembenaran.
Hasilnya, publik menilai kerja kerasnya pantas diapresiasi. Berdasarkan survei Lembaga Prolog 2025, Bapak Yandri masuk tiga besar menteri terbaik kabinet, dengan tingkat kepuasan publik mencapai 67%. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan bahwa masyarakat merasakan hasil kerjanya.
Refleksi Seorang Pelayan Desa
Kini, di usia yang ke-51, Bapak Yandri semakin matang, bukan hanya sebagai politisi, tapi juga sebagai pelayan rakyat. Ia memahami bahwa membangun desa tidak cukup dengan dana dan kebijakan; butuh sentuhan manusiawi, empati, dan kehadiran.
Dalam setiap kunjungan ke pelosok, ia selalu menyapa warga dengan senyum sederhana. Ia duduk di balai desa, makan bersama warga, mendengar cerita mereka tanpa jarak. Ia sering berkata, “Desa itu tempat belajar tentang keikhlasan. Kalau kita ingin membangun bangsa, mulailah dari sini.”
Penutup
Selamat ulang tahun ke-51 Bapak Yandri Susanto.
Teruslah menyalakan semangat dari desa untuk Indonesia.
Semoga langkahmu tetap kuat, hatimu tetap tulus, dan perjuanganmu selalu berpihak kepada mereka yang hidup jauh dari gemerlap kota, karena dari desa, kehidupan Indonesia sesungguhnya bermula.
***
_____
Buatami, S.Pd.I : Pendamping Desa Kecamatan Jangka Buya Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh.
0 Komentar