Catatan sederhana dari Jangka Buya
Jiwa Keibuan Sang Pendamping: Junidar, S.Pt Fasilitasi Rembuk Stunting di Gampong Kiran Dayah
Pemerintah Gampong Kiran Dayah, Kecamatan Jangka Buya, Kabupaten Pidie Jaya menggelar Musyawarah Rembuk Stunting Tahun Anggaran 2025. Kegiatan ini difasilitasi Pendamping Lokal Desa (PLD) Junidar, S.Pt, yang dengan pendekatan berjiwa keibuan berhasil merangkul dan menggerakkan perempuan Gampong untuk bersama mencegah stunting dan memperjuangkan generasi sehat dari akar desa.
Pidie Jaya - Suasana Kantor Keuchik Kiran Dayah, Kecamatan Jangka Buya, Sabtu (18/10/2025) pagi terasa berbeda. Di ruang sederhana itu, para ibu duduk berkeliling meja, sebagian membawa buku catatan dan data anak-anak Posyandu. Dari wajah-wajah mereka tampak kesungguhan dan semangat. Mereka tidak sedang menghadiri rapat biasa, mereka sedang berbicara tentang masa depan anak-anak mereka.
Kegiatan Musyawarah Rembuk Stunting Tahun Anggaran 2025 ini difasilitasi oleh Pendamping Lokal Desa (PLD) Junidar, S.Pt, bersama Pj. Keuchik Muhammad, SKM, perangkat gampong, kader PKK, dan kader Posyandu. Rembuk ini merupakan bagian dari upaya nasional menurunkan angka stunting yang kini menjadi prioritas utama pembangunan Gampong.
Namun ada hal yang membuat kegiatan ini berbeda. Junidar, sang pendamping lokal desa Gampong Kiran Dayah, tidak sekadar menjalankan tugas Fasilitasi. Ia hadir dengan jiwa keibuan yang memeluk para perempuan Gampong, mendengar, menguatkan, dan menumbuhkan rasa percaya diri bahwa mereka mampu menjadi garda terdepan dalam pencegahan stunting.
“Pencegahan stunting bukan hanya soal data dan bantuan, tapi tentang kasih sayang dan perhatian yang tidak boleh putus untuk anak-anak kita,” ujar Junidar dengan nada lembut yang menyentuh hati peserta rembuk.
Dalam forum itu, ia tidak banyak berbicara dengan bahasa birokrasi, teknokratik, melainkan dengan bahasa kemanusiaan. Ia bercerita tentang pentingnya makan bersama anak, memperhatikan tumbuh kembang, dan menjadikan Posyandu bukan sekadar tempat timbang berat badan, melainkan tempat berbagi harapan.
Dari notulensi kegiatan, tercatat 24 balita, 4 ibu hamil (1 dengan kondisi Kurang Energi Kronis/KEK), serta 2 balita dengan gizi kurang dan 2 balita stunting di Gampong Kiran Dayah. Data sederhana itu menjadi dasar langkah nyata yang disepakati bersama untuk :
- Pelatihan peningkatan kapasitas kader Posyandu dan KPM.
- Pemantauan gizi balita dan ibu hamil secara berkala.
- Edukasi kesehatan remaja dan pemberdayaan Posyandu remaja.
- Pengadaan alat kesehatan dasar untuk pemeriksaan rutin.
Keuchik Muhammad, SKM, dalam sambutannya menegaskan bahwa pemerintah gampong berkomitmen kuat untuk mendukung penuh program pencegahan stunting. “Ini bukan hanya tentang pembangunan fisik, tapi tentang masa depan generasi Kiran Dayah,” ujarnya.
Para kader perempuan tampak aktif berdiskusi dan menyampaikan ide-ide sederhana namun penuh makna. Nurhayati, salah satu kader Posyandu, mengatakan, “Dulu kami malu bicara soal gizi anak, tapi sekarang kami merasa ini tanggung jawab bersama.”
Di akhir acara, Junidar berdiri sejenak menatap para peserta. Senyumnya kecil, tapi tulus. Ia tahu, pekerjaan pendamping memang tidak selalu terlihat, tidak selalu dipuji. Namun di balik kerja sunyi itu, ada kebahagiaan tersendiri, melihat perempuan desa berani bicara dan mengambil peran.
Di Gampong Kiran Dayah, rembuk stunting bukan hanya musyawarah tahunan. Ia menjadi ruang kebangkitan perempuan desa, ruang tempat kasih sayang diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Karena pada akhirnya, seperti yang diyakini Junidar, “Jalan sunyi seorang pendamping lokal desa bukan untuk dilihat, tapi untuk memastikan langkah-langkah kecil di desa tidak pernah berhenti menuju masa depan yang lebih sehat.”
___
Oleh : Bustami, S.Pd.I
0 Komentar